Bewertung von Leseverstehen und Schreibtvertigkeit
A . Evaluasi Kemampuan membaca (Bewertung von Leseverstehen)
Membaca merupakan suatu keterampilan yang pemilikan keterampilannya memerlukan suatu latihan yang intensif, teratur dan berkesinambungan. Untuk menilai kegiatan membaca siswa, guru dapat berpedoman pada Taksonomi Bloom. Menurut Bloom, untuk menilai prestasi siswa dalambelajar (dalam bidang studi apapun) perlu memperhatikan tiga ranah perilaku, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Alat penilaian yang tepat untuk menilai ranah pertama (kognitif) adalah teknis tes, sedangkan untuk kedua ranah terakhir lebih cocok mengguanakan teknis nontes. Bentuk-bentuk nontes ini dapat berupa wawancara (baik bebas maupun terpimpin), observasi( bestruktur dan tak berstruktur), angket, skala bertingkat dan lain-lain.
Aktivitas dan tugas membaca merupakan hal yang sangat
penting dalam dunia pendidikan karena kegiatan ini akan sangat menentukan
kualitas dan keberhasilan seseorang didalam studinya. Pengukuran kegiatan
membaca dapat mencakup dua segi, yakni kemampuan baca dan kemauan baca .
Kemampuan membaca lebih berkaitan dengan aspek kognitif, sedang faktor kemauan
berkaitan dengan aspek afektif. Untuk mengukur kemampuan membaca seseorang
dapat dilakukan dengan teknis tes dengan mempertimbangkan anatomi pertanyaan
membaca yang disarankan pada konsep Bloom. Anatomi pertanyaan Bloom tersebut
terdiri atas pertanyaan yang berjenjang-jenjang, mulai dari tingkatan yang
paling sederhana hingga tingkatan yang paling kompleks.
Anatomi pertanyaan membaca dimaksud meliputi tujuh jenjang, yakni jenjang pertanyaan ingatan, terjemahan, interpretasi, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Untuk pembaca tingkat lanjut, pengunaan jenjang tes ingatan hendaklah dibatasi, karena tingkat tes itu kurang mengukur aspek pemahaman siswa. Bentuk soal kemampuan membaca sebaiknya dinyatakan dalam bentuk tes esai agar lebih dapat mencerminkan proses bernalar siswa dengan segala kreativitasnya. Bentuk-bentuk tes esei ini dipandang baik penggunaannya untuk mengukur kemampuan analisis, sintesis dan evaluasi siwa terhadap bacaan. Namun tidak berarti bentuk tes objektif tidak baik digunakan untuk mengukur kemampuan membaca siswa. Dalam situasi-situasi tertentu, bentuk tes ini mungkin lebih tepat penggunaannya.
Benyamin S. Bloom (1956) menyarankan tiga ranah penting yang perlu diperhatikan dalam penilaian pendidikan dan pengajaran tersebut lebih dikenal dengan sebutan Taksonomi Bloom, yang meliputi ranah kognitif, ranah efektif dan ranah psikomotorik. Dalam kaitannya dengan pengajaran membaca, ketiga ranah Taksonomi Bloom tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Ranah kognitif dalam membaca dapat diartikan sebagai aktivitas kognitif dalam memahami bacaan secara tepat dan kritis. Aktivitas seperti ini sering disebut sebagai kemampuan membaca, atau lebih khusus disebut sebagai kemampuan kognisi.
Anatomi pertanyaan membaca dimaksud meliputi tujuh jenjang, yakni jenjang pertanyaan ingatan, terjemahan, interpretasi, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Untuk pembaca tingkat lanjut, pengunaan jenjang tes ingatan hendaklah dibatasi, karena tingkat tes itu kurang mengukur aspek pemahaman siswa. Bentuk soal kemampuan membaca sebaiknya dinyatakan dalam bentuk tes esai agar lebih dapat mencerminkan proses bernalar siswa dengan segala kreativitasnya. Bentuk-bentuk tes esei ini dipandang baik penggunaannya untuk mengukur kemampuan analisis, sintesis dan evaluasi siwa terhadap bacaan. Namun tidak berarti bentuk tes objektif tidak baik digunakan untuk mengukur kemampuan membaca siswa. Dalam situasi-situasi tertentu, bentuk tes ini mungkin lebih tepat penggunaannya.
Benyamin S. Bloom (1956) menyarankan tiga ranah penting yang perlu diperhatikan dalam penilaian pendidikan dan pengajaran tersebut lebih dikenal dengan sebutan Taksonomi Bloom, yang meliputi ranah kognitif, ranah efektif dan ranah psikomotorik. Dalam kaitannya dengan pengajaran membaca, ketiga ranah Taksonomi Bloom tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Ranah kognitif dalam membaca dapat diartikan sebagai aktivitas kognitif dalam memahami bacaan secara tepat dan kritis. Aktivitas seperti ini sering disebut sebagai kemampuan membaca, atau lebih khusus disebut sebagai kemampuan kognisi.
b. Ranah afektif berhubungan
dengan sikap dan minat/motivasi siswa untuk membaca ; misalnya sikap positif
terhadap kegiatan membaca atau sebaliknya, gemar membaca, malas membaca dan
lain-lain.
c. Ranah psikomotor berkaitan dengan aktivitas fisik siswa pada saat melakukan kegiatan baca. Aktivitas fisik pada saat membaca teknis atau membaca nyaring, tentu berbeda dengan saat melakukan kegiatan membaca pemahaman. Pada bab ini, pembahasan kita akan lebih kita arahkan pada konsep-konsep Taksonomi Bloom ranah pertama, yaitu ranah kognitif. Mengapa demikian? hal ini dilandasi oleh pertimbangan bahwa untuk mengetahui kemampuan kognisi siswa dalam membaca (sebagai bagian dari pengukuran KEM) maka guru perlu dibekali pengetahuan tentang hal yang berkenaan dengan alat evaluasi kemampuan membaca (kemampuan kognisi dalam membaca) berikut cara-cara pengevaluasiannya.
Pelaksanaan penilaian kemampuan membaca yang berkaitan dengan ranah kognitif bisa dilakukan melalui tes. Tes macam apakah yang disarankan Bloom untuk menguji kemampuan membaca seseorang, akan diuraikan kemudian secara tersedniri. Untuk sekedar tambahan informasi bagi anda, ada baiknya jika kita bicarakan selintas mengenai kedua ranah yang lain dari Taksonomi Bloom, yakni ranah afektif dan ranah psikomotor dalam kaitannya dengan pengajaran membaca. Berbeda dengan ranah kognitif , penilaian untuk kedua aspek yang terakhir ini tidak mempergunakan teknis tes, melainkan teknis nontes. Teknis nontes tersebut dapat berupa wawancara, angket, observasi, pertanyaan dan pernyataan dengan skala bertingkat dan lain-lain. Oleh karena tidak menggunakan teknis tes, penilaian dengan menggunakan teknis nontes sebaiknya dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung secara berkesinambungan. Teknis nontes merupakan suatu alat penilaian yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan testi (Inggris: testee) dengan tidak menggunakan alat tes. Penilaian yang dilakukan dengan teknis nontes terutama bertujuan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan tingkah laku apektif dan psikomotor. Meskipun bentuk-bentuk teknis nontes ini banyak macamnya, namun dalam bab ini hanya akan dikupas beberapa buah saja yang dianggap cocok untuk mengukur tingkah laku afektif dan psikomotor aktivitas membaca siswa.
c. Ranah psikomotor berkaitan dengan aktivitas fisik siswa pada saat melakukan kegiatan baca. Aktivitas fisik pada saat membaca teknis atau membaca nyaring, tentu berbeda dengan saat melakukan kegiatan membaca pemahaman. Pada bab ini, pembahasan kita akan lebih kita arahkan pada konsep-konsep Taksonomi Bloom ranah pertama, yaitu ranah kognitif. Mengapa demikian? hal ini dilandasi oleh pertimbangan bahwa untuk mengetahui kemampuan kognisi siswa dalam membaca (sebagai bagian dari pengukuran KEM) maka guru perlu dibekali pengetahuan tentang hal yang berkenaan dengan alat evaluasi kemampuan membaca (kemampuan kognisi dalam membaca) berikut cara-cara pengevaluasiannya.
Pelaksanaan penilaian kemampuan membaca yang berkaitan dengan ranah kognitif bisa dilakukan melalui tes. Tes macam apakah yang disarankan Bloom untuk menguji kemampuan membaca seseorang, akan diuraikan kemudian secara tersedniri. Untuk sekedar tambahan informasi bagi anda, ada baiknya jika kita bicarakan selintas mengenai kedua ranah yang lain dari Taksonomi Bloom, yakni ranah afektif dan ranah psikomotor dalam kaitannya dengan pengajaran membaca. Berbeda dengan ranah kognitif , penilaian untuk kedua aspek yang terakhir ini tidak mempergunakan teknis tes, melainkan teknis nontes. Teknis nontes tersebut dapat berupa wawancara, angket, observasi, pertanyaan dan pernyataan dengan skala bertingkat dan lain-lain. Oleh karena tidak menggunakan teknis tes, penilaian dengan menggunakan teknis nontes sebaiknya dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung secara berkesinambungan. Teknis nontes merupakan suatu alat penilaian yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan testi (Inggris: testee) dengan tidak menggunakan alat tes. Penilaian yang dilakukan dengan teknis nontes terutama bertujuan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan tingkah laku apektif dan psikomotor. Meskipun bentuk-bentuk teknis nontes ini banyak macamnya, namun dalam bab ini hanya akan dikupas beberapa buah saja yang dianggap cocok untuk mengukur tingkah laku afektif dan psikomotor aktivitas membaca siswa.
·
Wawancara
Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan tanya-jawab sepihak. Mengapa dikatakan sepihak? Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab. Ada dua macam bentuk wawancara , yaitu wawancara terpimpin dan wawancara bebas. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaan-pertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan penanya. Sebaliknya dalam wawancara bebas, responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuan-ketentuan yang telah dibuat si pewawancaranya.
Sekarang, mari kita lihat contoh-contoh pertanyaan wawancara, baik dalam bentuk bebas maupun dalam bentuk terpimpin.
Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan tanya-jawab sepihak. Mengapa dikatakan sepihak? Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab. Ada dua macam bentuk wawancara , yaitu wawancara terpimpin dan wawancara bebas. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaan-pertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan penanya. Sebaliknya dalam wawancara bebas, responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuan-ketentuan yang telah dibuat si pewawancaranya.
Sekarang, mari kita lihat contoh-contoh pertanyaan wawancara, baik dalam bentuk bebas maupun dalam bentuk terpimpin.
Contoh
pertanyaan wawancara bentuk bebas untuk mengukur tingkah laku afektif dan
membaca siswa:
1) Apakah anda melakukan aktivitas membaca pada setiap
harinya?
2) Rata-rata berapa lama anda membaca dalam satu hari?
3) Jenis bacaan yang bagaimanakah yang anda sukai?
4) Apakah anda berlanggana surat kabar, majalah, jurnal,
atau yang lainnya?Coba sebutkan !
5) Bagaimana perasaan anda jika dalam suatu hari anda
tidak melakukan kegiatan membaca?
Contoh pertanyaan wawancara terpimpin untuk mengukur tingkah laku apektif membaca siswa:
Pertanyaan Alternatif Jawaban
1) Apakah kegiatan membaca merupakan bagian dari aktivitas anda sehari-hari?
1) Apakah anda melakukan aktivitas membaca pada setiap
harinya?
2) Rata-rata berapa lama anda membaca dalam satu hari?
3) Jenis bacaan yang bagaimanakah yang anda sukai?
4) Apakah anda berlanggana surat kabar, majalah, jurnal,
atau yang lainnya?Coba sebutkan !
5) Bagaimana perasaan anda jika dalam suatu hari anda
tidak melakukan kegiatan membaca?
Contoh pertanyaan wawancara terpimpin untuk mengukur tingkah laku apektif membaca siswa:
Pertanyaan Alternatif Jawaban
1) Apakah kegiatan membaca merupakan bagian dari aktivitas anda sehari-hari?
a)Ya, tak pernah satu haripun terlewatkan
b)tidak selalu, tetapi sering.
c) kadang-kadang saja
d)sama sekali tidak pernah
2)Berapa jam rata-rata anda membaca dalam setiap hari?
b)tidak selalu, tetapi sering.
c) kadang-kadang saja
d)sama sekali tidak pernah
2)Berapa jam rata-rata anda membaca dalam setiap hari?
a) lebih dari 4 jam
b) antara 2-4 jam
c) antara 1-2 jam
d) kurang dari 1 jam
3) Jenis bacaan yang bagaimanakah yang paling anda minati?
b) antara 2-4 jam
c) antara 1-2 jam
d) kurang dari 1 jam
3) Jenis bacaan yang bagaimanakah yang paling anda minati?
a)bacaan
ilmiah/non fiksi
b) bacaan sastra/fiksi
c) bacaan populer
b) bacaan sastra/fiksi
c) bacaan populer
Dari contoh-contoh
pertanyaan wawancara di atas, guru akan dapat mengukur perilaku afektif siswa
dalam kegiatan membaca dengan melihat kecendrungan jawaban yang diberikan
siswa. Contoh-contoh pertanyaan tersebut diatas hanya merupakan sekelumit
contoh saja, anda dapat mengembangkan sendiri pertanyaan-pertanyaan tersebut
sesuai dengan informasi yang ingin anda ketahui. Perilaku afektif dan
psikomotor siswa dapat dinyatakan dengan kriteria: sangat baik, baik, cukup,
kurang, kurang sekali atau kriteria lainnya yang sejenis dengan itu. Sekarang
mari kita lihat teknis nontes yang lainnya.
·
Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk
teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan
terhadap objeknya secara langsung, seksama dan sistematis. Teknis ini sangat
cocok dipergunaakan untuk menilai atau mengukur kadar perilaku, baik kognitif,
apektif maupun psikomotor. Demikian pula halnya untuk kepentingan penilaian
perilaku membaca. Untuk mengukur kemampuan membaca siswa, teknis tes rupanya
lebih cocok digunakan ketimbang teknis nontes. Namun untuk mengukur sikap,
minat dan kebiasaan membaca, barangkali teknis nonteslah yang lebih tepat
dipergunakan. Salah satu alat penilaian yang bersifat nontes itu adalah
kegiatan mengamati atau mengobservasi.
Ada dua macam jenis pengamatan yang biasa dipergunakan orang, yaitu pengamatan berstruktur dan pengamatan tidak berstruktur. Dalam pengamatan berstruktur, kegiatan pengamatan itu telah diatur sebelumnya. Isi, maksud, objek yang diamati, kerangka kerja, dan lain-lain,.telah ditetapkan sebelum kegiatan pengamatan dilaksanakan. Oleh karena itu , kegiatan pencatatan hanya dilakukan terhadap data-data yang sesuai dengan cakupan bidang kebutuhan seperti yang telah ditetapkan sejak semula. Lain halnya dengan pengamatan tak berstrukur, dalam melakukan pengamatannya, si pengamat tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setiap data yang muncul yang dianggap relevan dengan tujuan pengamatannya langsung dicatat. Dengan demikian, data yang diperoleh lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Perilaku siswa dalam keadaan seperti itu bersifat wajar, apa adanya dan tidak dibuat-buat. Pengamatan berstruktur misalnya, dipergunakan untuk menilai keterampilan berpidato, keterampilan membaca indah (seperti membaca sajak, cerpen dan lain-lain), keterampilan berbicara dan sebagainya. Kerangka kerja yang perlu dipersiapkan untuk menilai keterampilan-keterampilan diatas, misalnya yang berkaitan dengan masalah lafal, diksi, intonasi, kepasihan, penampilan, ketatabahasaan dan lain-lain. Masing-masing komponen tersebut terdiri atas pernyataan-pernyataan penilaian yang bersifat kualitatif yang dapat diekuivalenkan dengan lambing-lambang kuantitatif.
Pengamatan tak berstruktur sangat cocok untuk menilai sikap, misalnya saja minat, motivasi dan kebiasaan membaca murid anda. Penilaian terhadap minat, motivasi dan kebiasaan membaca, antara lain dapat memperhatikan pernyataan-pernyataan berikut: bagaimana sikapnya jika mengahadapi bahan bacaan?
Ada dua macam jenis pengamatan yang biasa dipergunakan orang, yaitu pengamatan berstruktur dan pengamatan tidak berstruktur. Dalam pengamatan berstruktur, kegiatan pengamatan itu telah diatur sebelumnya. Isi, maksud, objek yang diamati, kerangka kerja, dan lain-lain,.telah ditetapkan sebelum kegiatan pengamatan dilaksanakan. Oleh karena itu , kegiatan pencatatan hanya dilakukan terhadap data-data yang sesuai dengan cakupan bidang kebutuhan seperti yang telah ditetapkan sejak semula. Lain halnya dengan pengamatan tak berstrukur, dalam melakukan pengamatannya, si pengamat tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setiap data yang muncul yang dianggap relevan dengan tujuan pengamatannya langsung dicatat. Dengan demikian, data yang diperoleh lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Perilaku siswa dalam keadaan seperti itu bersifat wajar, apa adanya dan tidak dibuat-buat. Pengamatan berstruktur misalnya, dipergunakan untuk menilai keterampilan berpidato, keterampilan membaca indah (seperti membaca sajak, cerpen dan lain-lain), keterampilan berbicara dan sebagainya. Kerangka kerja yang perlu dipersiapkan untuk menilai keterampilan-keterampilan diatas, misalnya yang berkaitan dengan masalah lafal, diksi, intonasi, kepasihan, penampilan, ketatabahasaan dan lain-lain. Masing-masing komponen tersebut terdiri atas pernyataan-pernyataan penilaian yang bersifat kualitatif yang dapat diekuivalenkan dengan lambing-lambang kuantitatif.
Pengamatan tak berstruktur sangat cocok untuk menilai sikap, misalnya saja minat, motivasi dan kebiasaan membaca murid anda. Penilaian terhadap minat, motivasi dan kebiasaan membaca, antara lain dapat memperhatikan pernyataan-pernyataan berikut: bagaimana sikapnya jika mengahadapi bahan bacaan?
(1) Seberapa jauh tingkat keterlibatannya
dalam aktivitas membaca?
(2) Apakah para siswa mengisyaratkan adanya suatu bukti bahwa dilingkungan rumahnya terlibat dalam aktivitas membaca?
(3) Apa hobinya ?
(4) Apa yang bisa dilakukannya pada waktu luang ?
(5) Apakah siswa anda menyukai buku-buku ?
(6) Apakah siswa anda memperlihatkan kemauan untuk belajar membaca ?
(2) Apakah para siswa mengisyaratkan adanya suatu bukti bahwa dilingkungan rumahnya terlibat dalam aktivitas membaca?
(3) Apa hobinya ?
(4) Apa yang bisa dilakukannya pada waktu luang ?
(5) Apakah siswa anda menyukai buku-buku ?
(6) Apakah siswa anda memperlihatkan kemauan untuk belajar membaca ?
Pengamatan guru terhadap perilaku afektif dan psikomotor siswa tidak hanya dapat dilakukan di lingkungan sekolahnya saja, melainkan dimana saja dan kapan saja kita melihatnya.
Skala bertingkat lazim dipergunakan untuk mengukur kelayakan atau kecenderungan tertentu yang berkaitan dengan sikap, keyakinan, pandangan atau nilai-nilai yang bersifat kualitatif. Pengukuran ini cocok digunakan untuk memperoleh data kualitatif tentang objek yang bersifat heterogen. Perilaku apektif dan psikomotor siswa dalam membaca tentunya tidak sama. Masing-masing mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda dengan keragaman perilaku apektif siswa dalam membaca ini akan sangat berpengaruh terhadap keputusan intruksional guru dalam proses belajar mengajar.
Cara Penilaian Membaca
Salah satu kegiatan yang
ikut menentukan keberhasilan belajar mengajar (PBM) ialah penilaian, baik yang
menyangkut penilaian program, kegiatan, dan hasil proses belajar mengajar.
Lingkup kegiatan ini amat luas karena itu pada kesempatan ini perhatian
dipusatkan pada penilaian terhadap kemajuan anak dalam PBM, terutama penilaian
pelajaran membaca.
Sebagai pelaksana kegiatan pelajaran membaca di kelas III sampai kelas VI Sekolah Dasar penilaian tentu sangat berkaitan dengan tiap-tiap jenis teknik membaca.
Sebagai pelaksana kegiatan pelajaran membaca di kelas III sampai kelas VI Sekolah Dasar penilaian tentu sangat berkaitan dengan tiap-tiap jenis teknik membaca.
1. Membaca teknis (Membaca Bersuara)
Dalam membaca teknis yang dinilai ialah :
a. Ketepatan ucapan atau lafal.
b. Ketepatan nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat.
c. Kewajaran nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat sebagai pemakaian
bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
d. Kelancaran siswa dalam membaca.
2. Membaca dalam hati (Membaca sekilas, memindai, intensif, ekstensif)
Hal-hal yang dinilai ialah :
a. Kemampuan siswa menangkap isi wacana, baik yang tersurat maupun yang tersirat.
b. Kemampuan menceritakan kembali isi wacana dengan bahasanya sendiri/ kata-kata sendiri.
c. Kemampuan menemuan pikiran pokok setiap paragraf.
d. Kemampuan menemukan ide atau pengertian pokok wacana.
e. Kemampuan menjawab pertanyaan dengan lengkap.
f. Kemampuan mengatasi kebiasaan tidak efisien atau cacat dalam membaca.
3. Membaca bahasa
Hal-hal yang dinilai berkaitan dengan unsur-unsur kebebasan yang diperlukan
dalam membaca.
a. Ketepatan pemakaian kata (kosakata), struktur kalimat, dan penyusunan paragraf.
b. Pemakaian ejaan yang benar.
c. Pemakaian tanda baca yang tepat
4. Membaca indah (Apresiasi Sastra)
Hal-hal yang dinilai meliputi :
a. Pemahaman terhadap wacana.
b. Ketepatan ucapan atau lafal, nada, irama, lagu kalimat.
c. Kuat dan lemah, keras atau lambat suara (termasuk volume).
d. Penghayatan dan penjiwaan terhadap wacana yang dibaca.
e. Penampilan atau ekspresi pada waktu membaca.
5. Membaca bebas (Membaca
Perpustakaan)
Penilaian terhadap membaca
bebas hendaknya bersifat mendorong pribadi siswa/kelas dalam menumbuhkan
kegemaran membaca. Guru memberikan tugas-tugas yang dapat memberikan gambaran
keaktifan, ketelitian, dan kerajinan siswa. Yang dinilai antara lain hasil
laporan bacaan, rangkuman isi wacana,hasil diskusi kelompok mengenai buku atau
wacana yang dibaca, dan sebagainya. Dalam setiap jenis membaca, guru hendaknya
telah mempunyai skala penilaian berdasarkan materi yang akan dinilai. Hal ini
untuk memperkecil perasaan guru ikut dalam menilai, misalnya rasa suka / tidak
suka sehingga menimbulkan kesan pilih kasih. Sebagai contoh saja, skala
penilaian dalam menilai membaca teknis :
a. Ketepatan ucapan atau lafal. = 3
b. Ketepatan nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat = 3
c. Kewajaran nada irama, lagu, dan intonasi kalimat sebagai pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari = 4
Jumlah = 10
Jadi, kalau siswa A dapat membaca teknis dengan baik dan mulus sesuai kriteria penilaian maka ia akan mendapat maksimal 10, dst. Perlu diperhatikan bahwa guru harus melihat tujuan dari tiap jenis membaca lalu membuat skala penilaiannya.
a. Ketepatan ucapan atau lafal. = 3
b. Ketepatan nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat = 3
c. Kewajaran nada irama, lagu, dan intonasi kalimat sebagai pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari = 4
Jumlah = 10
Jadi, kalau siswa A dapat membaca teknis dengan baik dan mulus sesuai kriteria penilaian maka ia akan mendapat maksimal 10, dst. Perlu diperhatikan bahwa guru harus melihat tujuan dari tiap jenis membaca lalu membuat skala penilaiannya.
Penilaian keterampilan Membaca
Ada dua jenis penilaian membaca yang dapat digunakan dalam menguji kemampuan membaca siswa SD, yaitu tes pemahaman kalimat dan tes pemahaman wacana.
Tes Pemahaman Kalimat
Jenis tes ini biasanya digunakan pada kelas rendah, jenis tes ini terasa cukup sukar karena kemampuan membaca mereka masih terbatas, oleh karenanya dengan pertimbangan teknologi pembelajaran, ketika dalam menyusun tes pemahaman kalimat, guru harus memilih cara yang tepat agar tidak membuat siswa frustasi karena tidak mampu mengerjakan tes. Ada dua cara yang dapat untuk mengatasi masalah guru dalam menyusun tes pemahaman kalimat ini, yaitu menyajikan gambar dan menyajikan kata atau frase untuk pilihan jawabannya. Tes pemahaman kalimat ini biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami fungsi kosakata dan struktur dalam kalimat.
Tes Pemahaman Wacana
Tes pemahaman wacana dengan pertimbangan teknologi pembelajaran ini terdiri dari tes pilihan ganda dan tes isian rumpang. Tes pilihan ganda harus memperhatikan panjang pendeknya wacana yang dibaca sekaligus disertai dengan pertanyaan. Tes isian rumpang adalah tes pemahaman wcana yang disajikan dengan cara siswa diminta mengisi rumpang-rumpang dalam teks bacaan yang kata-katanya telah ditanggalkan.
Jenis tes ini biasanya digunakan pada kelas rendah, jenis tes ini terasa cukup sukar karena kemampuan membaca mereka masih terbatas, oleh karenanya dengan pertimbangan teknologi pembelajaran, ketika dalam menyusun tes pemahaman kalimat, guru harus memilih cara yang tepat agar tidak membuat siswa frustasi karena tidak mampu mengerjakan tes. Ada dua cara yang dapat untuk mengatasi masalah guru dalam menyusun tes pemahaman kalimat ini, yaitu menyajikan gambar dan menyajikan kata atau frase untuk pilihan jawabannya. Tes pemahaman kalimat ini biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami fungsi kosakata dan struktur dalam kalimat.
Tes Pemahaman Wacana
Tes pemahaman wacana dengan pertimbangan teknologi pembelajaran ini terdiri dari tes pilihan ganda dan tes isian rumpang. Tes pilihan ganda harus memperhatikan panjang pendeknya wacana yang dibaca sekaligus disertai dengan pertanyaan. Tes isian rumpang adalah tes pemahaman wcana yang disajikan dengan cara siswa diminta mengisi rumpang-rumpang dalam teks bacaan yang kata-katanya telah ditanggalkan.
B. Evaluasi
Proses Menulis Siswa (Bewertung von Schreibvertigkeit)
Sampai saat ini, asesmen formal
terhadap tulisan siswa hanya difokuskan pada hasil karangan yang sudah jadi
saja atau produknya saja. Padahal sebenarnya proses menulis yang
menitikberatkan pada apa yang dilakukan pendekatan yang berada pada asesmennya.
Asesmen tentang proses dirancang untuk melihat bagaimana siswa menulis,
keputusan-keputusan apa yang mereka buat saat menulis, dan strategi-strategi
apa yang mereka gunakan, buakan sekedar melihat produk akhir tulisan mereka.
Ada tiga cara yang bisa dipergunakan dalam evaluasi proses tersebut, yaitu:
daftar cek (checklist) untuk menulis, pertemuan (confrerences) antara guru dan
siswa, dan asesmen diri sendiri oleh siswa. Informasi dari ketiga asesmen
tersebut bersama-sama dengan asesmen produk akan bisa memberikan suatu gambaran
tentang asesmen yang lebih lengkap.
1. Daftar
Cek Proses Menulis (Writing Process Checklist)
Saat
guru mengamati para siswa yang sedang menulis, guru dapat mencatat bagaimana
para siswa bekerja melalui tahap-tahap proses menulis, yaitu: mengumpulkan dan
mengorganisasikan ide-ide selama drafting, bertemu dengan kelompok-kelompok
(penulis) untuk mendapatkan umpan balik mengenai tulisannya dan kemudian
mengadakan perubahan-perubahan yang sungguh-sungguh selama revisi, proof
reading (koreksi cetakan percobaan) dan mengoreksi kesalahan-kesalahan mekanis
selama mengedit, dan menerbitkan serta membagi-bagi tulisannya (Mackenzie &
Tompkins, 1984). Daftar cek proses menulis dapat juga diadaptasikan untuk
berbagai tipe proyke menulis. Misalnya, apabila para siswa sedang menulis
autobiografi, item-item dapat ditambahkan di dalam tahap pra menulis guna mengembangkan
suatu lifeline dari mengelompokkan ide-ide untuk setiap topik bab. Di dalam
tahap pembahasan bersama (sharing) bisa dimasukan atau disertakan item-item
yang memfokuskan pada penambahan daftar isi, ilustrasi untuk setiap bab, dan
membahas otobiografi yang telah selesai tersebut paling tidak dengan dua orang.
Daftar cek proses menulis juga dapat digunakan bersama-sama dengan asesmen
produk. Para guru dapat mendasarkan prosentase nilai siswa yang dapat
menunjukkan seberapa baik mereka dapat menggunakan proses menulis dan
prosentase sisanya untuk mutu hasil tulisan atau produk.
2. Asesmen
melalui pertemuan (Assessment Conferences)
Para guru kiat berbahasa, seperti Atwell
(1988) menyatakan bahwa agar bisa mendorong siswa supaya mempunyai keberanian
untuk bereksperimen dalam tulisannya, maka tidak harus setiap lembar tulisannya
dinilai. Bisa saja, lembaran itu dibicarakan bersama dengan siswa. Melalui
konperensi, para guru dapat bertemu dengan setiap siswa dan membahas
perkembangan tulisan mereka secara bersama-sama. Dan pada pertemuan ini guru
juga dapat membantu siswa memilih karangan yang akan disimpan pada
portofolionya. Diskusi tersebut dapat dititikberatkan pada semua aspek proses
menulis yang meliputi pemilihan topik, aktifitas pra menulis, pilihan kata,
aktifiktas kelompok menulis, tipe-tipe revisi, konsistensi dalam mengedit, dan
sebera-a jauh keterlibatan dalam menulis tersebut. Di bawah ini contoh
pertanyaan dalam diskusi yang dapat mendorong siswa supaya mau merefleksikan
pikirannya dalam tulisannya.
- Apa yang membuat mudah atau sulit dalam
menulis karangan?
- Apa yang bisa kamu kerjakan dengan baik
dalam tugas menulis ini?
- Apa yang kamu lakukan untuk mengumpulkan
dan mengorganisasikan ide-ide sebelum menulis?
- Jenis pertolongan apa yang kamu dapatkan
dari kelompok menulismu?
Revisi seperti apa yang kamu lakukan?
- Bagiamana kamu mengoreksi draf tulisan
kamu?
- Kesalahan mekanis apakah yang mudah atau
sulit dikelompokkan?
- Bacalah bagian yang paling kamu sukai dari
tulisan kamu! Mengapa kamu menyukainya?
Melalui pertanyaan yang bijaksana dan
memancing seperti itu guru dapat membantu siswa untuk memahami proses menulis
dan juga dapat melihat kompetensi mereka. Pertemuan seperti ini tidak perlu
lama, cukup kira-kira 10 menit untuk setiap siswa, dan pada akhir pertemuan,
guru dan para siswa dapat mengembangkan seperangkan tujuan (sasaran) untuk
proyek menulis tersebut. Daftar tujuan menulis itu dapat ditambahkan pada
folder menulis siswa dan dipergunakan untuk memulia konferensi berikutnya.
3. Asesmen
diri (Self Assessment)
Temple dkk. (1988) memberi rekomendasi bahwa
kita mengajar anakanak supaya bisa mengases tulisannya sendiri dan proses
menulisnya. Dalam asesmen diri, para siswa bertanggung jawab untuk mengases
tulisannya sendiri dan harus memutuskan bagian tulisannya mana yang akan mereka
bahas bersama guru dan teman sekelasnya dan menempatkan di dalam portofolionya.
Kemampuan merefleksikan tulisan itu akan meningkatkan keterampilan, kepercayaan
diri, independensi, dan kreatifitas. Evaluasi diri juga merupakan suatu bagian
alamiah di dalam menulis. Para siswa mengases tulisannya sendiri melalui proses
menulis. Siswa mengases draft kasar dan karangan yang sudah selesai, sebelum
membahas bersama-sama tulisannya dengan teman sekelas di dalam kelompok
menulisnya, misalnya para siswa memeriksa draft kasarnya dan mengadakan
beberapa Asesmen pendahuluan. Asesmen ini bisa berkaitan dengan mutu tulisan;
yaitu apakah tulisan itu komunikatif? Sejauh mana tulisan itu memenuhi
syarat-syarat karangan yang telah ditetapkan guru? Umpamanya anak-anak kelas 3
dapat mengecek laporannya tentang binatang dengan jalan menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut. - Dimanakah binatang itu hidup? - Apakah makanan
binatang itu? - Binatang itu seperti itu bentuknya? - Bagaimanakah binatang itu
melindungi dirinya? Guru dapat membuat suatu angket mengenai asesmen diri yang
harus dilengkapi oleh para siswa, setelah diadakan tukar pendapat mengenai
tulisan mereka beberapa pertanyaan dalam angket hendaknya berkaitan dengan
proses menulis, dan lainnya berkaitan dengan karangan mereka. Contoh angket ini
bisa dilihat dalam tabel berikut.
Para siswa menggunakan asesmen diri
saat mereka menyeleksi lembaran-lembaran tuiannya untuk ditempatkan pada
portofolionya. Mereka memilih karangan yang paling disukainya, dan karangan
hasil percobaan dengan teknik-teknik yang baru. Hasil asesmen diri yang ditulis
oleh siswa baik dlam bentuk daftar cek atau deskripsi, dapat disertakan pada
karangan mereka yang disimpan pada portofolio. Pada deskripsi tersebut siswa
dapat memberi komentar mengenai alasan-alasannya memilih karangna tersebut
untuk disimpan dalam portofolionya.
B. Pengukuran Hasil Tulisan siswa (Product
Measures)
Pada bagian awal paparan sudah
dipaparkan salah satu bentuk penilaian, yaitu penilaian proses menulis melalui
penggunaan daftar cek proses menulis, melalui konferensi, dan melalui evaluasi
diri (self evaluation) terhadap proses menulis. Selanjutnya, berikut ini Anda
akan mempelajari pengukuran hasil tulisan siswa yang dilakukan melalui
penyekoran holistic dan melalui penyekoran analitik. Demikian juga sudah bahwa
pengukuran merupakan suatu proses melukiskan aspek-aspek tertentu dari tingkah
laku siswa ke dalam bentuk angkaangka dengan menggunakan alat ukur yang
dinamakan tes. Pengukuran dapat juga diartikan sebagai proses pengenaan angka
terhadap benda atau gejala berdasarkan aturan tertentu. Sasaran yang dinilai
dalam penilaian hasil belajar adalah tingkat penguasaan peseta didik tentang
apa yang telah dipelajarinya. Penilaian hasil belajar merupakan upaya
mengunpulkan informasi untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan dan kemampuan
yang telah dikuasai siswa pada setiap akhir pembelajaran.
Berkaitan dengan paparan di atas,
penilaian yang dilakukan hendaknya valid, mendidik, berorientasi pada
kompetensi, adil dan objektif, terbuka dan berkesinambungan sebagaimana
disarankan dalam penilaian berbasis kelas (PBK). Kuswari (2004) mengemukakan
bahwa PBK merupakan suatu penilaian berdasarkan suatu pengumpulan, pelaporan
dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa yang diperoleh melalui
pengukuran dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan
berkelanjutan, bukti otentik, akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas
publik. PBK secara umum bertujuan untuk memberikan penghargaan terhadap
pencapaian belajar siswa dan memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran.
Sedangkan secara khusus, PBK bertujuan untuk memberikan (1) informasi tentang
kemajuan belajar siswa, (2) informasi yang dapat digunakan untuk membina kemajuan
belajar lebih lanjut, (3) motivasi belajar siswa dan melakukan pemberian
bimbingan yang lebih tepat. Fungsi PBK bagi siswa dan guru adalah untuk
membantu siswa (1) dalam mewujudkan dirinya dengan mengubah atau mengembangkan
perilakunya ke arah yang lebih baik dan maju, (2) siswa mendapat kepuasan atas
apa yang dikerjakannya, (3) guru untuk menetapkan apakah metode mengajar yang
digunakannya telah memadai atau tidak dan (4) membantu guru membuat
pertimbangan dan keputusan administrasi.
Ibarat mengukur panjangnya suatu
benda, pengukuran dapat disepadankan dengan proses mengetahui panjangnya suatu
benda dengan menggunakan penggaris atau meteran. Penyekoran karangan dapat
dilakukan dengan menggunakan 3 macam teknik, yaitu :
(1) teknik penyekoran holistik,
(2) teknik penyekoran analitik, dan
(3) teknik penyekoran unsur-unsur yang
diutamakan (Omaggio, 1986; Cooper, 1971).
1. Penyekoran
Holistik (Holistic Scoring)
Teknik penyekoran holistik merupakan teknik
penyekoran karangan yang didasarkan pada kesan secara keseluruhan dari suatu
karangan. Kriteria penyekoran yang digunakan adalah:
(1) kejelasan karangan, topik, serta
kecukupan pengembangan ide,
(2) efektivitas permasalahan yang
dimunculkan,
(3) kesesuaian atau ketepatannya dengan
kebutuhan pembaca,
(4) tingkat kekohesifan gramatika dan
leksikal serta kekoherensiannya secara keseluruhan, dan (5) keefektipan
penggunaan piranti retoriknya Kelemahan teknik ini terletak pada kelelahan
penyekor, pengetahuan sebelumnya, dan perubahan standar dari satu karangan ke
karangan yang lain.
Kelebihannya terletak pada kemampuannya untuk
menggambarkan kemampuan menulis sebagai suatu keutuhan. Dalam penyekoran secara
holistik, guru membaca tulisan siswa untuk memperoleh kesan umum dan
menyeluruh. Atas dasar kesan umum itu, guru menjeniskan karangan (siswa) ke
dalam tiga, empat, lima atau enam tumpukan (bundelan) dari yang kuat sampai
yang lemah. Kemudian dari setiap tumpukan karangan tersebut, guru memberikan
skor numberial atau huruf. Pada penyekoran cara ini fokus (asesmen) diarahkan
pada performasi tulisan siswa secara holistik (menyeluruh/keseluruha), bukan
pada aspekaspek tertentu karangan siswa seperti isi organisasi, kapitalisasi,
pungtuasi dan sebagainya. Itulah sebabnya, penyekoran cara ini tidak cocok
untuk mengukur “aplikasi khusus” keterampilan menulis siswa.
2. Penyekoran
Analistik (Analystic Scoring)
Teknik penyekoran analitik merupakan teknik
penyekoran karangan yang dilakukan dengan cara penyekoran dikenakan pada
komponen-komponen pembentuk karangan dengan melakukan penghitungan secara rinci
kesalahankesalahan yang ada adalam karangan. Komponen-komponen pembentuk
karangan yang dimaksud meliputi: judul, gagasan, organisasi gagasan (kesatuan,
kepaduan, kelogisan), penggunaan struktur, pemilihan diksi, tanda baca dan
ejaan. Kelebihan teknik penyekoran ini terletak pada kemungkinannya untuk dapat
menilai semua komponen yang mendukung kemampuan mengarang secara rinci.
Kelemahannya terletak pada kesulitan untuk mengkuantifikasikan hasil penyekoran
setiap komponen.
Penyekoran Analistik (PA) mula-mula
dikembangkan oleh Rul Diederich (dalam Resmini dkk.,1995) untuk sekolah tinggi
dan mahasiswa college. Menurutnya tampilan (performasi) dibedakan atas (i)
“general merit”, dan (ii) unsur mekanik. Ciri khusus “general merit” berkaitan
dengan (a) ide, (b) organisasi, (c) susunan data, dan (d) cita rasa/selera.
Sedangkan unsur mekanik terdiri atas penggunaan (a) struktur kalimat, (b)
pungtuasi dan kapitalisasi, (c) ejaan, dan (d) kerapian tulisan (tangan).
Dua kategori menurut Diederich itu dapat
dibandingkan dengan dua kategori tulisan yakni (a) isi, (b) mekanikal
(mechanics) seperti yang biasa kita kenal. Sistem penyekoran analistik (PA)
untuk karangan siswa SD dapat diadaptasikan dari skala Diederich di atas. Untuk
itu, tulisan siswa (SD) yang baik dipisahkan ke dalam 4 kategori yaitu (a) ide,
(b) organisasi, (c) gaya, dan (d) mekanika (mekanik). Selanjutnya, nilai
persentase untuk 4 kategori tersebut dilakukan dengan dua cara, yakni (a)
masing-masing kategori diberi nilai persentase 25%, dan (b) tiga kategori
pertama 30% dan kategoi terakhir 10%.Sistem Penyekoran Analistik (SPA) untuk
karangan siswa SD dapat dilihat dalam dua contoh tabel berikut.
Edward White (1985, P. 124) mencirikan PA
sebagai “pedagogically destructive and theoretically bankrupt”, meskipun
kebanyakan sekolahsekolah menggunakan sistem penyekoran jenis ini. Penyuekoran
Analistik (PA) adalah subyektif. Kategori-kategori yang digunakan tidak selalu
sesuai dengan semua bentuk tulisan. PA (Penyekan Analistik) cenderung mengalami
“halo effect”
3. Teknik
penyekoran unsur-unsur yang diutamakan
Teknik penyekoran unsur-unsur yang diutamakan
merupakan teknik penyekoran karangan yang dilakukan dengan cara penyekoran
secara keseluruhan yang didasarkan pada unsur atau komponen tertentu yang
diutamakan dalam suatu karangan. Misalnya, komponen struktur, kosa kata, gaya,
isi, atau organisasi. Kelebihan teknik penyekoran ini terletak pada
kemungkinannya untuk memusatkan penilaian terhadap aspek kemampuan yang diukur.
Kelemahannya, kemungkinan dapat terjadi adanya komponen penting dalam mengarang
yang tidak diukur.
4. Ciri
Utama Penyekoran (Primary trait scoring)
Ciri utama penyekoran antara lain aktivitas
yang dilakukan adalah (i) guru memfokuskan pada tulisan tertentu kemampuan
retoris tertentu dalam karangan, (ii) penyekoran bergantung pada bentuk tulisan
dan audien (pembaca) yang dituju. Selanjutnya dikatakan bhawa ciri utama
asesmen didasarkan pada dua gagasan yaitu: (i) pertama, bahwa karangan
merupakan penggunaan bentuk tulisan secara khusus untuk fungsi dan audien yang
khusus pula, (ii) bahwa tulisan harus dinilai menurut kriteria situasi yang
berciri khusus. Untuk itu langkah-langkah penyekoran adalah (i) menentukan ciri
utama/ yang esensial tulisan untuk diskor, (ii) mengembangkan petunjuk
penyekoran berupa daftar ciri utama tulisan yang digunakan untuk pemberian
skor. Petunjuk penyekoran tersebut dibagikan kepada siswa sebelum mereka
melakukan aktivitas menulis. Dengan demikian, kriteria asesmen yang digunakan
diketahui siswa. Petunjuk penyekoran “reading log” atau buku harian dapat
dilihat dalam contoh berikut.
5. Analisis
Kesalahan (Error Analisis)
Untuk
mengukur kualitas tulisan siswa tidak cukup hanya dengan mengidentifikasi dan
menghitung jumlah kesalahan pada karangan siswa, tetapi lebih daripada itu
perlu menganalisis tipe-tipe kesalahannya. Dalam menulis, kesalahan berbahasa
dilakukan dalam asesmen konferensi. Melalui aktifiktas itu siswa memberikan
alasan dan tanggapan pada karangannya. Siswa sering melakukan “self koreksi”
(reread).
Sebagai
bandingan, S.P. Corder membedakan tiga macam kesalahan yang dibuat oleh penutur
B2, yaitu: (a) lapses, (b) error, dan (c) mistake, disamping itu dibedakan 4 taksonomi
kesalahan berbahasa yaitu (a) taksonomi kategori permulaan (b) taksonomi
komparatif, (c) taksonomi kategori linguistik, (d) taksonomi afik komunikatif
(Dullay, 1982).
Selanjunya
prosedur analisis kesalahan dapat mengikuti 6 langkah yakni: (a) pengumpulan
data kesalahan, (b) pengidentifikasi dan pengklasifikasian kesalahan, (c)
pemeringkatan kesalahan berbahasa yang ditemukan, (d) penjelasan terhadap
kesalahan yang berhasil diidentifikasi, (e) pemrediksian tataran kebahasaan
yang rawan salah, dan (f) pengoreksian kesalahan berbahasa. Dari prosedur itu
dapat dilakukan model analisa kesalahan berbahasa yang pada prinsipnya
/pokoknya terdiri atas tiga tahapan, yaitu: (a) Deskripsi kesalahan. (b)
analisis kesalahan dan c) eksplorasi kesalahan. Masing-masing langkah memiliki
sublangkah tersendiri.
6. Pemberian
Tanggapan Tulisan Siswa (Responding to Student Writing)
Respon
yang diberikan guru pada saat mengases karangan siswa berwujud komentar. Untuk
itu ada 4 kategori komentar berkenaan dengan (a) memeriksa isi dan mekanikal
karangan, (b) mengoreksi lebih banyak kesalahan yang bersifat, (c) komentar
tentang kalimat, dan kesalahan struktural lain, dan (d) komentar “berupa kata
kerja yang bagus” untuk mendorong siswa. Donald (1983) dan Eillen Tway (1980 a,
1980b) merekomendasikan bahwa komentar dibantukan secara lisan dalam tulisan
kelompok (writing groups) dan pada saat konferensi. Juga dianjurkan cara
membantu perkembangan tulisan siswa yaitu: (a) penggunaan pertanyaan untuk
memecahkan pikiran siswa, (c) menunjukkan bagaimana mendukung pernyataan umum
dengan detail, (d) menolong siswa untuk mengembangkan idenya, (c) penggunaan
sastra sebagai model, dan (f) kenikmatan/keasyikan menulis serta (g) penguasaan
bahasa siswa.
7. Pemberian
Angka (Assyring Grades)
Untuk
memberikan kemajuan tulisan siswa, guru menghimpun informasi dari sumber yang
bervariasi. Hal itu ditempuh melalui observasi, daftar cek (checklist),
konferensi, dan tulisan pada potofolio. Dan asesmen yang dibuat untuk tulisan
mereka adalah dengan mempertimbangkan (a) hasil pemantauan informal tulisan
siswa serta (b) pengaburan proses dan hasil.
Komentar
Posting Komentar