Bewertung von Leseverstehen und Schreibtvertigkeit


A . Evaluasi Kemampuan membaca (Bewertung von Leseverstehen)

           
Membaca merupakan suatu keterampilan yang pemilikan keterampilannya memerlukan suatu latihan yang intensif, teratur dan berkesinambungan. Untuk menilai kegiatan membaca siswa, guru dapat berpedoman pada Taksonomi Bloom. Menurut Bloom, untuk menilai prestasi siswa dalambelajar (dalam bidang studi apapun) perlu memperhatikan tiga ranah perilaku, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.  Alat penilaian yang tepat untuk menilai ranah pertama (kognitif) adalah teknis tes, sedangkan untuk kedua ranah terakhir lebih cocok mengguanakan teknis nontes. Bentuk-bentuk nontes ini dapat berupa wawancara (baik bebas maupun terpimpin), observasi( bestruktur dan tak berstruktur), angket, skala bertingkat dan lain-lain.
            Aktivitas dan tugas membaca merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan karena kegiatan ini akan sangat menentukan kualitas dan keberhasilan seseorang didalam studinya. Pengukuran kegiatan membaca dapat mencakup dua segi, yakni kemampuan baca dan kemauan baca . Kemampuan membaca lebih berkaitan dengan aspek kognitif, sedang faktor kemauan berkaitan dengan aspek afektif. Untuk mengukur kemampuan membaca seseorang dapat dilakukan dengan teknis tes dengan mempertimbangkan anatomi pertanyaan membaca yang disarankan pada konsep Bloom. Anatomi pertanyaan Bloom tersebut terdiri atas pertanyaan yang berjenjang-jenjang, mulai dari tingkatan yang paling sederhana hingga tingkatan yang paling kompleks.
Anatomi pertanyaan membaca dimaksud meliputi tujuh jenjang, yakni jenjang pertanyaan ingatan, terjemahan, interpretasi, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Untuk pembaca tingkat lanjut, pengunaan jenjang tes ingatan hendaklah dibatasi, karena tingkat tes itu kurang mengukur aspek pemahaman siswa. Bentuk soal kemampuan membaca sebaiknya dinyatakan dalam bentuk tes esai agar lebih dapat mencerminkan proses bernalar siswa dengan segala kreativitasnya. Bentuk-bentuk tes esei ini dipandang baik penggunaannya untuk mengukur kemampuan analisis, sintesis dan evaluasi siwa terhadap bacaan. Namun tidak berarti bentuk tes objektif tidak baik digunakan untuk mengukur kemampuan membaca siswa. Dalam situasi-situasi tertentu, bentuk tes ini mungkin lebih tepat penggunaannya. 
            Benyamin S. Bloom (1956) menyarankan tiga ranah penting yang perlu diperhatikan dalam penilaian pendidikan dan pengajaran tersebut lebih dikenal dengan sebutan Taksonomi Bloom, yang meliputi ranah kognitif, ranah efektif dan ranah psikomotorik. Dalam kaitannya dengan pengajaran membaca, ketiga ranah Taksonomi Bloom tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Ranah kognitif dalam membaca dapat diartikan sebagai aktivitas kognitif dalam memahami bacaan secara tepat dan kritis. Aktivitas seperti ini sering disebut sebagai kemampuan membaca, atau lebih khusus disebut sebagai kemampuan kognisi.
b. Ranah afektif berhubungan dengan sikap dan minat/motivasi siswa untuk membaca ; misalnya sikap positif terhadap kegiatan membaca atau sebaliknya, gemar membaca, malas membaca dan lain-lain.
c. Ranah psikomotor berkaitan dengan aktivitas fisik siswa pada saat melakukan kegiatan baca. Aktivitas fisik pada saat membaca teknis atau membaca nyaring, tentu berbeda dengan saat melakukan kegiatan membaca pemahaman. Pada bab ini, pembahasan kita akan lebih kita arahkan pada konsep-konsep Taksonomi Bloom ranah pertama, yaitu ranah kognitif. Mengapa demikian? hal ini dilandasi oleh pertimbangan bahwa untuk mengetahui kemampuan kognisi siswa dalam membaca (sebagai bagian dari pengukuran KEM) maka guru perlu dibekali pengetahuan tentang hal yang berkenaan dengan alat evaluasi kemampuan membaca (kemampuan kognisi dalam membaca) berikut cara-cara pengevaluasiannya.
            Pelaksanaan penilaian kemampuan membaca yang berkaitan dengan ranah kognitif bisa dilakukan melalui tes. Tes macam apakah yang disarankan Bloom untuk menguji kemampuan membaca seseorang, akan diuraikan kemudian secara tersedniri.  Untuk sekedar tambahan informasi bagi anda, ada baiknya jika kita bicarakan selintas mengenai kedua ranah yang lain dari Taksonomi Bloom, yakni ranah afektif dan ranah psikomotor dalam kaitannya dengan pengajaran membaca. Berbeda dengan ranah kognitif , penilaian untuk kedua aspek yang terakhir ini tidak mempergunakan teknis tes, melainkan teknis nontes. Teknis nontes tersebut dapat berupa wawancara, angket, observasi, pertanyaan dan pernyataan dengan skala bertingkat dan lain-lain. Oleh karena tidak menggunakan teknis tes, penilaian dengan menggunakan teknis nontes sebaiknya dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung secara berkesinambungan. Teknis nontes merupakan suatu alat penilaian yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan testi (Inggris: testee) dengan tidak menggunakan alat tes. Penilaian yang dilakukan dengan teknis nontes terutama bertujuan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan tingkah laku apektif dan psikomotor. Meskipun bentuk-bentuk teknis nontes ini banyak macamnya, namun dalam bab ini hanya akan dikupas beberapa buah saja yang dianggap cocok untuk mengukur tingkah laku afektif dan psikomotor aktivitas membaca siswa.
·         Wawancara
Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan tanya-jawab sepihak. Mengapa dikatakan sepihak? Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab. Ada dua macam bentuk wawancara , yaitu wawancara terpimpin dan wawancara bebas. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaan-pertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan penanya. Sebaliknya dalam wawancara bebas, responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuan-ketentuan yang telah dibuat si pewawancaranya.
Sekarang, mari kita lihat contoh-contoh pertanyaan wawancara, baik dalam bentuk bebas maupun dalam bentuk terpimpin.
 Contoh pertanyaan wawancara bentuk bebas untuk mengukur tingkah laku afektif dan membaca siswa:
1) Apakah anda melakukan aktivitas membaca pada setiap 
harinya?
2) Rata-rata berapa lama anda membaca dalam satu hari?
3) Jenis bacaan yang bagaimanakah yang anda sukai?
4) Apakah anda berlanggana surat kabar, majalah, jurnal, 
atau yang lainnya?Coba sebutkan !
5) Bagaimana perasaan anda jika dalam suatu hari anda 
tidak melakukan kegiatan membaca?
Contoh pertanyaan wawancara terpimpin untuk mengukur tingkah laku apektif membaca siswa:
Pertanyaan Alternatif Jawaban
1) Apakah kegiatan membaca merupakan bagian dari aktivitas anda sehari-hari?
a)Ya, tak pernah satu haripun terlewatkan
b)tidak selalu, tetapi sering.
c) kadang-kadang saja
d)sama sekali tidak pernah
2)Berapa jam rata-rata anda membaca dalam setiap hari?
a) lebih dari 4 jam
b) antara 2-4 jam
c) antara 1-2 jam
d) kurang dari 1 jam
3) Jenis bacaan yang bagaimanakah yang paling anda minati?
 a)bacaan ilmiah/non fiksi
b) bacaan sastra/fiksi
c) bacaan populer

Dari contoh-contoh pertanyaan wawancara di atas, guru akan dapat mengukur perilaku afektif siswa dalam kegiatan membaca dengan melihat kecendrungan jawaban yang diberikan siswa. Contoh-contoh pertanyaan tersebut diatas hanya merupakan sekelumit contoh saja, anda dapat mengembangkan sendiri pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan informasi yang ingin anda ketahui. Perilaku afektif dan psikomotor siswa dapat dinyatakan dengan kriteria: sangat baik, baik, cukup, kurang, kurang sekali atau kriteria lainnya yang sejenis dengan itu. Sekarang mari kita lihat teknis nontes yang lainnya.    
·         Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan terhadap objeknya secara langsung, seksama dan sistematis. Teknis ini sangat cocok dipergunaakan untuk menilai atau mengukur kadar perilaku, baik kognitif, apektif maupun psikomotor. Demikian pula halnya untuk kepentingan penilaian perilaku membaca. Untuk mengukur kemampuan membaca siswa, teknis tes rupanya lebih cocok digunakan ketimbang teknis nontes. Namun untuk mengukur sikap, minat dan kebiasaan membaca, barangkali teknis nonteslah yang lebih tepat dipergunakan. Salah satu alat penilaian yang bersifat nontes itu adalah kegiatan mengamati atau mengobservasi.
Ada dua macam jenis pengamatan yang biasa dipergunakan orang, yaitu pengamatan berstruktur dan pengamatan tidak berstruktur. Dalam pengamatan berstruktur, kegiatan pengamatan itu telah diatur sebelumnya. Isi, maksud, objek yang diamati, kerangka kerja, dan lain-lain,.telah ditetapkan sebelum kegiatan pengamatan dilaksanakan. Oleh karena itu , kegiatan pencatatan hanya dilakukan terhadap data-data yang sesuai dengan cakupan bidang kebutuhan seperti yang telah ditetapkan sejak semula. Lain halnya dengan pengamatan tak berstrukur, dalam melakukan pengamatannya, si pengamat tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setiap data yang muncul yang dianggap relevan dengan tujuan pengamatannya langsung dicatat. Dengan demikian, data yang diperoleh lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Perilaku siswa dalam keadaan seperti itu bersifat wajar, apa adanya dan tidak dibuat-buat. Pengamatan berstruktur misalnya, dipergunakan untuk menilai keterampilan berpidato, keterampilan membaca indah (seperti membaca sajak, cerpen dan lain-lain), keterampilan berbicara dan sebagainya. Kerangka kerja yang perlu dipersiapkan untuk menilai keterampilan-keterampilan diatas, misalnya yang berkaitan dengan masalah lafal, diksi, intonasi, kepasihan, penampilan, ketatabahasaan dan lain-lain. Masing-masing komponen tersebut terdiri atas pernyataan-pernyataan penilaian yang bersifat kualitatif yang dapat diekuivalenkan dengan lambing-lambang kuantitatif.
Pengamatan tak berstruktur sangat cocok untuk menilai sikap, misalnya saja minat, motivasi dan kebiasaan membaca murid anda. Penilaian terhadap minat, motivasi dan kebiasaan membaca, antara lain dapat memperhatikan pernyataan-pernyataan berikut: bagaimana sikapnya jika mengahadapi bahan bacaan?
 (1) Seberapa jauh tingkat keterlibatannya dalam aktivitas  membaca?
(2) Apakah para siswa mengisyaratkan adanya suatu bukti bahwa dilingkungan rumahnya terlibat dalam aktivitas membaca?
(3) Apa hobinya ?
(4) Apa yang bisa dilakukannya pada waktu luang ?
(5) Apakah siswa anda menyukai buku-buku ?
(6) Apakah siswa anda memperlihatkan kemauan untuk belajar membaca ?

Pengamatan guru terhadap perilaku afektif dan psikomotor siswa tidak hanya dapat dilakukan di lingkungan sekolahnya saja, melainkan dimana saja dan kapan saja kita melihatnya.
Skala bertingkat lazim dipergunakan untuk mengukur kelayakan atau kecenderungan tertentu yang berkaitan dengan sikap, keyakinan, pandangan atau nilai-nilai yang bersifat kualitatif. Pengukuran ini cocok digunakan untuk memperoleh data kualitatif tentang objek yang bersifat heterogen. Perilaku apektif dan psikomotor siswa dalam membaca tentunya tidak sama. Masing-masing mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda dengan keragaman perilaku apektif siswa dalam membaca ini akan sangat berpengaruh terhadap keputusan intruksional guru dalam proses belajar mengajar.
Cara Penilaian Membaca
Salah satu kegiatan yang ikut menentukan keberhasilan belajar mengajar (PBM) ialah penilaian, baik yang menyangkut penilaian program, kegiatan, dan hasil proses belajar mengajar. Lingkup kegiatan ini amat luas karena itu pada kesempatan ini perhatian dipusatkan pada penilaian terhadap kemajuan anak dalam PBM, terutama penilaian pelajaran membaca.
Sebagai pelaksana kegiatan pelajaran membaca di kelas III sampai kelas VI Sekolah Dasar penilaian tentu sangat berkaitan dengan tiap-tiap jenis teknik membaca.

1. Membaca teknis (Membaca Bersuara)
Dalam membaca teknis yang dinilai ialah :
a. Ketepatan ucapan atau lafal.
b. Ketepatan nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat.
c. Kewajaran nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat sebagai pemakaian
bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
d. Kelancaran siswa dalam membaca.

2. Membaca dalam hati (Membaca sekilas, memindai, intensif, ekstensif)
Hal-hal yang dinilai ialah :
a. Kemampuan siswa menangkap isi wacana, baik yang tersurat maupun yang tersirat.
b. Kemampuan menceritakan kembali isi wacana dengan bahasanya sendiri/ kata-kata sendiri.
c. Kemampuan menemuan pikiran pokok setiap paragraf.
d. Kemampuan menemukan ide atau pengertian pokok wacana.
e. Kemampuan menjawab pertanyaan dengan lengkap.
f. Kemampuan mengatasi kebiasaan tidak efisien atau cacat dalam membaca.

3. Membaca bahasa
Hal-hal yang dinilai berkaitan dengan unsur-unsur kebebasan yang diperlukan
dalam membaca.
a. Ketepatan pemakaian kata (kosakata), struktur kalimat, dan penyusunan paragraf.
b. Pemakaian ejaan yang benar.
c. Pemakaian tanda baca yang tepat

4. Membaca indah (Apresiasi Sastra)
Hal-hal yang dinilai meliputi :
a. Pemahaman terhadap wacana.
b. Ketepatan ucapan atau lafal, nada, irama, lagu kalimat.
c. Kuat dan lemah, keras atau lambat suara (termasuk volume).
d. Penghayatan dan penjiwaan terhadap wacana yang dibaca.
e. Penampilan atau ekspresi pada waktu membaca.

5. Membaca bebas (Membaca Perpustakaan)
Penilaian terhadap membaca bebas hendaknya bersifat mendorong pribadi siswa/kelas dalam menumbuhkan kegemaran membaca. Guru memberikan tugas-tugas yang dapat memberikan gambaran keaktifan, ketelitian, dan kerajinan siswa. Yang dinilai antara lain hasil laporan bacaan, rangkuman isi wacana,hasil diskusi kelompok mengenai buku atau wacana yang dibaca, dan sebagainya. Dalam setiap jenis membaca, guru hendaknya telah mempunyai skala penilaian berdasarkan materi yang akan dinilai. Hal ini untuk memperkecil perasaan guru ikut dalam menilai, misalnya rasa suka / tidak suka sehingga menimbulkan kesan pilih kasih. Sebagai contoh saja, skala penilaian dalam menilai membaca teknis :
a. Ketepatan ucapan atau lafal. = 3
b. Ketepatan nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat = 3
c. Kewajaran nada irama, lagu, dan intonasi kalimat sebagai pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari = 4
Jumlah = 10
Jadi, kalau siswa A dapat membaca teknis dengan baik dan mulus sesuai kriteria penilaian maka ia akan mendapat maksimal 10, dst. Perlu diperhatikan bahwa guru harus melihat tujuan dari tiap jenis membaca lalu membuat skala penilaiannya.

Penilaian keterampilan Membaca

Ada dua jenis penilaian membaca yang dapat digunakan dalam menguji kemampuan membaca siswa SD, yaitu tes pemahaman kalimat dan tes pemahaman wacana.

Tes Pemahaman Kalimat
Jenis tes ini biasanya digunakan pada kelas rendah, jenis tes ini terasa cukup sukar karena kemampuan membaca mereka masih terbatas, oleh karenanya dengan pertimbangan teknologi pembelajaran, ketika dalam menyusun tes pemahaman kalimat, guru harus memilih cara yang tepat agar tidak membuat siswa frustasi karena tidak mampu mengerjakan tes. Ada dua cara yang dapat untuk mengatasi masalah guru dalam menyusun tes pemahaman kalimat ini, yaitu menyajikan gambar dan menyajikan kata atau frase untuk pilihan jawabannya. Tes pemahaman kalimat ini biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami fungsi kosakata dan struktur dalam kalimat.
Tes Pemahaman Wacana
Tes pemahaman wacana dengan pertimbangan teknologi pembelajaran ini terdiri dari tes pilihan ganda dan tes isian rumpang. Tes pilihan ganda harus memperhatikan panjang pendeknya wacana yang dibaca sekaligus disertai dengan pertanyaan. Tes isian rumpang adalah tes pemahaman wcana yang disajikan dengan cara siswa diminta mengisi rumpang-rumpang dalam teks bacaan yang kata-katanya telah ditanggalkan.

B.     Evaluasi Proses Menulis Siswa (Bewertung von Schreibvertigkeit)
            Sampai saat ini, asesmen formal terhadap tulisan siswa hanya difokuskan pada hasil karangan yang sudah jadi saja atau produknya saja. Padahal sebenarnya proses menulis yang menitikberatkan pada apa yang dilakukan pendekatan yang berada pada asesmennya. Asesmen tentang proses dirancang untuk melihat bagaimana siswa menulis, keputusan-keputusan apa yang mereka buat saat menulis, dan strategi-strategi apa yang mereka gunakan, buakan sekedar melihat produk akhir tulisan mereka. Ada tiga cara yang bisa dipergunakan dalam evaluasi proses tersebut, yaitu: daftar cek (checklist) untuk menulis, pertemuan (confrerences) antara guru dan siswa, dan asesmen diri sendiri oleh siswa. Informasi dari ketiga asesmen tersebut bersama-sama dengan asesmen produk akan bisa memberikan suatu gambaran tentang asesmen yang lebih lengkap.
1.      Daftar Cek Proses Menulis (Writing Process Checklist)
 Saat guru mengamati para siswa yang sedang menulis, guru dapat mencatat bagaimana para siswa bekerja melalui tahap-tahap proses menulis, yaitu: mengumpulkan dan mengorganisasikan ide-ide selama drafting, bertemu dengan kelompok-kelompok (penulis) untuk mendapatkan umpan balik mengenai tulisannya dan kemudian mengadakan perubahan-perubahan yang sungguh-sungguh selama revisi, proof reading (koreksi cetakan percobaan) dan mengoreksi kesalahan-kesalahan mekanis selama mengedit, dan menerbitkan serta membagi-bagi tulisannya (Mackenzie & Tompkins, 1984). Daftar cek proses menulis dapat juga diadaptasikan untuk berbagai tipe proyke menulis. Misalnya, apabila para siswa sedang menulis autobiografi, item-item dapat ditambahkan di dalam tahap pra menulis guna mengembangkan suatu lifeline dari mengelompokkan ide-ide untuk setiap topik bab. Di dalam tahap pembahasan bersama (sharing) bisa dimasukan atau disertakan item-item yang memfokuskan pada penambahan daftar isi, ilustrasi untuk setiap bab, dan membahas otobiografi yang telah selesai tersebut paling tidak dengan dua orang. Daftar cek proses menulis juga dapat digunakan bersama-sama dengan asesmen produk. Para guru dapat mendasarkan prosentase nilai siswa yang dapat menunjukkan seberapa baik mereka dapat menggunakan proses menulis dan prosentase sisanya untuk mutu hasil tulisan atau produk.
2.      Asesmen melalui pertemuan (Assessment Conferences)
Para guru kiat berbahasa, seperti Atwell (1988) menyatakan bahwa agar bisa mendorong siswa supaya mempunyai keberanian untuk bereksperimen dalam tulisannya, maka tidak harus setiap lembar tulisannya dinilai. Bisa saja, lembaran itu dibicarakan bersama dengan siswa. Melalui konperensi, para guru dapat bertemu dengan setiap siswa dan membahas perkembangan tulisan mereka secara bersama-sama. Dan pada pertemuan ini guru juga dapat membantu siswa memilih karangan yang akan disimpan pada portofolionya. Diskusi tersebut dapat dititikberatkan pada semua aspek proses menulis yang meliputi pemilihan topik, aktifitas pra menulis, pilihan kata, aktifiktas kelompok menulis, tipe-tipe revisi, konsistensi dalam mengedit, dan sebera-a jauh keterlibatan dalam menulis tersebut. Di bawah ini contoh pertanyaan dalam diskusi yang dapat mendorong siswa supaya mau merefleksikan pikirannya dalam tulisannya.
- Apa yang membuat mudah atau sulit dalam menulis karangan?
- Apa yang bisa kamu kerjakan dengan baik dalam tugas menulis ini?
- Apa yang kamu lakukan untuk mengumpulkan dan mengorganisasikan ide-ide sebelum menulis?
- Jenis pertolongan apa yang kamu dapatkan dari kelompok menulismu?
Revisi seperti apa yang kamu lakukan?
- Bagiamana kamu mengoreksi draf tulisan kamu?
- Kesalahan mekanis apakah yang mudah atau sulit dikelompokkan?
- Bacalah bagian yang paling kamu sukai dari tulisan kamu! Mengapa kamu menyukainya?
Melalui pertanyaan yang bijaksana dan memancing seperti itu guru dapat membantu siswa untuk memahami proses menulis dan juga dapat melihat kompetensi mereka. Pertemuan seperti ini tidak perlu lama, cukup kira-kira 10 menit untuk setiap siswa, dan pada akhir pertemuan, guru dan para siswa dapat mengembangkan seperangkan tujuan (sasaran) untuk proyek menulis tersebut. Daftar tujuan menulis itu dapat ditambahkan pada folder menulis siswa dan dipergunakan untuk memulia konferensi berikutnya.
3.      Asesmen diri (Self Assessment)
Temple dkk. (1988) memberi rekomendasi bahwa kita mengajar anakanak supaya bisa mengases tulisannya sendiri dan proses menulisnya. Dalam asesmen diri, para siswa bertanggung jawab untuk mengases tulisannya sendiri dan harus memutuskan bagian tulisannya mana yang akan mereka bahas bersama guru dan teman sekelasnya dan menempatkan di dalam portofolionya. Kemampuan merefleksikan tulisan itu akan meningkatkan keterampilan, kepercayaan diri, independensi, dan kreatifitas. Evaluasi diri juga merupakan suatu bagian alamiah di dalam menulis. Para siswa mengases tulisannya sendiri melalui proses menulis. Siswa mengases draft kasar dan karangan yang sudah selesai, sebelum membahas bersama-sama tulisannya dengan teman sekelas di dalam kelompok menulisnya, misalnya para siswa memeriksa draft kasarnya dan mengadakan beberapa Asesmen pendahuluan. Asesmen ini bisa berkaitan dengan mutu tulisan; yaitu apakah tulisan itu komunikatif? Sejauh mana tulisan itu memenuhi syarat-syarat karangan yang telah ditetapkan guru? Umpamanya anak-anak kelas 3 dapat mengecek laporannya tentang binatang dengan jalan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. - Dimanakah binatang itu hidup? - Apakah makanan binatang itu? - Binatang itu seperti itu bentuknya? - Bagaimanakah binatang itu melindungi dirinya? Guru dapat membuat suatu angket mengenai asesmen diri yang harus dilengkapi oleh para siswa, setelah diadakan tukar pendapat mengenai tulisan mereka beberapa pertanyaan dalam angket hendaknya berkaitan dengan proses menulis, dan lainnya berkaitan dengan karangan mereka. Contoh angket ini bisa dilihat dalam tabel berikut.
            Para siswa menggunakan asesmen diri saat mereka menyeleksi lembaran-lembaran tuiannya untuk ditempatkan pada portofolionya. Mereka memilih karangan yang paling disukainya, dan karangan hasil percobaan dengan teknik-teknik yang baru. Hasil asesmen diri yang ditulis oleh siswa baik dlam bentuk daftar cek atau deskripsi, dapat disertakan pada karangan mereka yang disimpan pada portofolio. Pada deskripsi tersebut siswa dapat memberi komentar mengenai alasan-alasannya memilih karangna tersebut untuk disimpan dalam portofolionya.

B. Pengukuran Hasil Tulisan siswa (Product Measures) 
            Pada bagian awal paparan sudah dipaparkan salah satu bentuk penilaian, yaitu penilaian proses menulis melalui penggunaan daftar cek proses menulis, melalui konferensi, dan melalui evaluasi diri (self evaluation) terhadap proses menulis. Selanjutnya, berikut ini Anda akan mempelajari pengukuran hasil tulisan siswa yang dilakukan melalui penyekoran holistic dan melalui penyekoran analitik. Demikian juga sudah bahwa pengukuran merupakan suatu proses melukiskan aspek-aspek tertentu dari tingkah laku siswa ke dalam bentuk angkaangka dengan menggunakan alat ukur yang dinamakan tes. Pengukuran dapat juga diartikan sebagai proses pengenaan angka terhadap benda atau gejala berdasarkan aturan tertentu. Sasaran yang dinilai dalam penilaian hasil belajar adalah tingkat penguasaan peseta didik tentang apa yang telah dipelajarinya. Penilaian hasil belajar merupakan upaya mengunpulkan informasi untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan dan kemampuan yang telah dikuasai siswa pada setiap akhir pembelajaran.
            Berkaitan dengan paparan di atas, penilaian yang dilakukan hendaknya valid, mendidik, berorientasi pada kompetensi, adil dan objektif, terbuka dan berkesinambungan sebagaimana disarankan dalam penilaian berbasis kelas (PBK). Kuswari (2004) mengemukakan bahwa PBK merupakan suatu penilaian berdasarkan suatu pengumpulan, pelaporan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pengukuran dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti otentik, akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. PBK secara umum bertujuan untuk memberikan penghargaan terhadap pencapaian belajar siswa dan memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran. Sedangkan secara khusus, PBK bertujuan untuk memberikan (1) informasi tentang kemajuan belajar siswa, (2) informasi yang dapat digunakan untuk membina kemajuan belajar lebih lanjut, (3) motivasi belajar siswa dan melakukan pemberian bimbingan yang lebih tepat. Fungsi PBK bagi siswa dan guru adalah untuk membantu siswa (1) dalam mewujudkan dirinya dengan mengubah atau mengembangkan perilakunya ke arah yang lebih baik dan maju, (2) siswa mendapat kepuasan atas apa yang dikerjakannya, (3) guru untuk menetapkan apakah metode mengajar yang digunakannya telah memadai atau tidak dan (4) membantu guru membuat pertimbangan dan keputusan administrasi.
            Ibarat mengukur panjangnya suatu benda, pengukuran dapat disepadankan dengan proses mengetahui panjangnya suatu benda dengan menggunakan penggaris atau meteran. Penyekoran karangan dapat dilakukan dengan menggunakan 3 macam teknik, yaitu :
(1) teknik penyekoran holistik,
(2) teknik penyekoran analitik, dan
(3) teknik penyekoran unsur-unsur yang diutamakan (Omaggio, 1986; Cooper, 1971).
1.      Penyekoran Holistik (Holistic Scoring)
Teknik penyekoran holistik merupakan teknik penyekoran karangan yang didasarkan pada kesan secara keseluruhan dari suatu karangan. Kriteria penyekoran yang digunakan adalah:
(1) kejelasan karangan, topik, serta kecukupan pengembangan ide,
(2) efektivitas permasalahan yang dimunculkan,
(3) kesesuaian atau ketepatannya dengan kebutuhan pembaca,
(4) tingkat kekohesifan gramatika dan leksikal serta kekoherensiannya secara keseluruhan, dan (5) keefektipan penggunaan piranti retoriknya Kelemahan teknik ini terletak pada kelelahan penyekor, pengetahuan sebelumnya, dan perubahan standar dari satu karangan ke karangan yang lain.
Kelebihannya terletak pada kemampuannya untuk menggambarkan kemampuan menulis sebagai suatu keutuhan. Dalam penyekoran secara holistik, guru membaca tulisan siswa untuk memperoleh kesan umum dan menyeluruh. Atas dasar kesan umum itu, guru menjeniskan karangan (siswa) ke dalam tiga, empat, lima atau enam tumpukan (bundelan) dari yang kuat sampai yang lemah. Kemudian dari setiap tumpukan karangan tersebut, guru memberikan skor numberial atau huruf. Pada penyekoran cara ini fokus (asesmen) diarahkan pada performasi tulisan siswa secara holistik (menyeluruh/keseluruha), bukan pada aspekaspek tertentu karangan siswa seperti isi organisasi, kapitalisasi, pungtuasi dan sebagainya. Itulah sebabnya, penyekoran cara ini tidak cocok untuk mengukur “aplikasi khusus” keterampilan menulis siswa.


2.      Penyekoran Analistik (Analystic Scoring)
Teknik penyekoran analitik merupakan teknik penyekoran karangan yang dilakukan dengan cara penyekoran dikenakan pada komponen-komponen pembentuk karangan dengan melakukan penghitungan secara rinci kesalahankesalahan yang ada adalam karangan. Komponen-komponen pembentuk karangan yang dimaksud meliputi: judul, gagasan, organisasi gagasan (kesatuan, kepaduan, kelogisan), penggunaan struktur, pemilihan diksi, tanda baca dan ejaan. Kelebihan teknik penyekoran ini terletak pada kemungkinannya untuk dapat menilai semua komponen yang mendukung kemampuan mengarang secara rinci. Kelemahannya terletak pada kesulitan untuk mengkuantifikasikan hasil penyekoran setiap komponen.
Penyekoran Analistik (PA) mula-mula dikembangkan oleh Rul Diederich (dalam Resmini dkk.,1995) untuk sekolah tinggi dan mahasiswa college. Menurutnya tampilan (performasi) dibedakan atas (i) “general merit”, dan (ii) unsur mekanik. Ciri khusus “general merit” berkaitan dengan (a) ide, (b) organisasi, (c) susunan data, dan (d) cita rasa/selera. Sedangkan unsur mekanik terdiri atas penggunaan (a) struktur kalimat, (b) pungtuasi dan kapitalisasi, (c) ejaan, dan (d) kerapian tulisan (tangan).
Dua kategori menurut Diederich itu dapat dibandingkan dengan dua kategori tulisan yakni (a) isi, (b) mekanikal (mechanics) seperti yang biasa kita kenal. Sistem penyekoran analistik (PA) untuk karangan siswa SD dapat diadaptasikan dari skala Diederich di atas. Untuk itu, tulisan siswa (SD) yang baik dipisahkan ke dalam 4 kategori yaitu (a) ide, (b) organisasi, (c) gaya, dan (d) mekanika (mekanik). Selanjutnya, nilai persentase untuk 4 kategori tersebut dilakukan dengan dua cara, yakni (a) masing-masing kategori diberi nilai persentase 25%, dan (b) tiga kategori pertama 30% dan kategoi terakhir 10%.Sistem Penyekoran Analistik (SPA) untuk karangan siswa SD dapat dilihat dalam dua contoh tabel berikut.
Edward White (1985, P. 124) mencirikan PA sebagai “pedagogically destructive and theoretically bankrupt”, meskipun kebanyakan sekolahsekolah menggunakan sistem penyekoran jenis ini. Penyuekoran Analistik (PA) adalah subyektif. Kategori-kategori yang digunakan tidak selalu sesuai dengan semua bentuk tulisan. PA (Penyekan Analistik) cenderung mengalami “halo effect”
3.      Teknik penyekoran unsur-unsur yang diutamakan
Teknik penyekoran unsur-unsur yang diutamakan merupakan teknik penyekoran karangan yang dilakukan dengan cara penyekoran secara keseluruhan yang didasarkan pada unsur atau komponen tertentu yang diutamakan dalam suatu karangan. Misalnya, komponen struktur, kosa kata, gaya, isi, atau organisasi. Kelebihan teknik penyekoran ini terletak pada kemungkinannya untuk memusatkan penilaian terhadap aspek kemampuan yang diukur. Kelemahannya, kemungkinan dapat terjadi adanya komponen penting dalam mengarang yang tidak diukur.
4.      Ciri Utama Penyekoran (Primary trait scoring)
Ciri utama penyekoran antara lain aktivitas yang dilakukan adalah (i) guru memfokuskan pada tulisan tertentu kemampuan retoris tertentu dalam karangan, (ii) penyekoran bergantung pada bentuk tulisan dan audien (pembaca) yang dituju. Selanjutnya dikatakan bhawa ciri utama asesmen didasarkan pada dua gagasan yaitu: (i) pertama, bahwa karangan merupakan penggunaan bentuk tulisan secara khusus untuk fungsi dan audien yang khusus pula, (ii) bahwa tulisan harus dinilai menurut kriteria situasi yang berciri khusus. Untuk itu langkah-langkah penyekoran adalah (i) menentukan ciri utama/ yang esensial tulisan untuk diskor, (ii) mengembangkan petunjuk penyekoran berupa daftar ciri utama tulisan yang digunakan untuk pemberian skor. Petunjuk penyekoran tersebut dibagikan kepada siswa sebelum mereka melakukan aktivitas menulis. Dengan demikian, kriteria asesmen yang digunakan diketahui siswa. Petunjuk penyekoran “reading log” atau buku harian dapat dilihat dalam contoh berikut.
5.      Analisis Kesalahan (Error Analisis)
      Untuk mengukur kualitas tulisan siswa tidak cukup hanya dengan mengidentifikasi dan menghitung jumlah kesalahan pada karangan siswa, tetapi lebih daripada itu perlu menganalisis tipe-tipe kesalahannya. Dalam menulis, kesalahan berbahasa dilakukan dalam asesmen konferensi. Melalui aktifiktas itu siswa memberikan alasan dan tanggapan pada karangannya. Siswa sering melakukan “self koreksi” (reread).
      Sebagai bandingan, S.P. Corder membedakan tiga macam kesalahan yang dibuat oleh penutur B2, yaitu: (a) lapses, (b) error, dan (c) mistake, disamping itu dibedakan 4 taksonomi kesalahan berbahasa yaitu (a) taksonomi kategori permulaan (b) taksonomi komparatif, (c) taksonomi kategori linguistik, (d) taksonomi afik komunikatif (Dullay, 1982).
      Selanjunya prosedur analisis kesalahan dapat mengikuti 6 langkah yakni: (a) pengumpulan data kesalahan, (b) pengidentifikasi dan pengklasifikasian kesalahan, (c) pemeringkatan kesalahan berbahasa yang ditemukan, (d) penjelasan terhadap kesalahan yang berhasil diidentifikasi, (e) pemrediksian tataran kebahasaan yang rawan salah, dan (f) pengoreksian kesalahan berbahasa. Dari prosedur itu dapat dilakukan model analisa kesalahan berbahasa yang pada prinsipnya /pokoknya terdiri atas tiga tahapan, yaitu: (a) Deskripsi kesalahan. (b) analisis kesalahan dan c) eksplorasi kesalahan. Masing-masing langkah memiliki sublangkah tersendiri.
6.      Pemberian Tanggapan Tulisan Siswa (Responding to Student Writing)
      Respon yang diberikan guru pada saat mengases karangan siswa berwujud komentar. Untuk itu ada 4 kategori komentar berkenaan dengan (a) memeriksa isi dan mekanikal karangan, (b) mengoreksi lebih banyak kesalahan yang bersifat, (c) komentar tentang kalimat, dan kesalahan struktural lain, dan (d) komentar “berupa kata kerja yang bagus” untuk mendorong siswa. Donald (1983) dan Eillen Tway (1980 a, 1980b) merekomendasikan bahwa komentar dibantukan secara lisan dalam tulisan kelompok (writing groups) dan pada saat konferensi. Juga dianjurkan cara membantu perkembangan tulisan siswa yaitu: (a) penggunaan pertanyaan untuk memecahkan pikiran siswa, (c) menunjukkan bagaimana mendukung pernyataan umum dengan detail, (d) menolong siswa untuk mengembangkan idenya, (c) penggunaan sastra sebagai model, dan (f) kenikmatan/keasyikan menulis serta (g) penguasaan bahasa siswa.
7.      Pemberian Angka (Assyring Grades)
Untuk memberikan kemajuan tulisan siswa, guru menghimpun informasi dari sumber yang bervariasi. Hal itu ditempuh melalui observasi, daftar cek (checklist), konferensi, dan tulisan pada potofolio. Dan asesmen yang dibuat untuk tulisan mereka adalah dengan mempertimbangkan (a) hasil pemantauan informal tulisan siswa serta (b) pengaburan proses dan hasil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS - JENIS TEMPAT TINGGAL DI JERMAN

RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BAHASA JERMAN